Saturday, July 07, 2007

"TO GIVE OR TO GET"

Seorang pebisnis muda datang mengadukan masalahnyakepada sahabat saya yang berprofesi sebagai konsultan spiritual bisnis.Pebisnis itu membuka masalahannya dengan mengatakan,"Pak saya memiliki adik yang sangat durhaka. Ketikakuliah saya yang membiayai.Ketika dia menikah saya yang menikahkan danmenanggung semua biayanya.Sekarang berbekal satu kwitansi atas namanya, diaakan menggugat saya ke pengadilan.Dalam gugatannya ia mengatakan rumah yang sayatempati adalah milik adik saya."Pebisnis muda itu diam sejenak sambil menarik napaspanjang.Kemudian dia meneruskan ceritanya, "Padahal rumahitu saya beli dengan tetesan keringat saya.
Saya nggak habis pikir, mengapa dia tega melakukanini. Saya minta petunjuk dari Bapak bagaimanamenundukkan adik saya.

Saya ingin agar adik saya sadar dan tidak usahmembawa permasalahan itu ke pengadilan. Saya maludengan banyak orang."Kemudian konsultan bertanya, "Dari mana uang yangkamu gunakan untuk membangun rumahmu?"Orang itu menjawab, "Dari hasil jerih payah usahasaya. Saya pernah punya usaha pom bensin tapisekarang sudah bangkrut."Terus darimana modal usaha pom bensinmu? desak sangkonsultan. Dia terdiam.Setelah menarik nafas panjang, dia berkata , "Modalusaha pom bensin saya peroleh dari hasil penjualantanah milik ibu saya.Saya jual tanah itu tanpa izin ibu saya. Ibu sayakecewa, tak lama setelah kejadian itu ibu sayadipanggil Yang Maha Kuasa.""Itulah sebab musabab problem anda. Memulai usahadengan uang yang tidak bersih bahkan dengan caramenyakiti ibu kandung anda.
Ironisnya, anda belum sempat meminta maaf kepada ibuanda dan dia sudah meninggal dunia," jawab sang konsultan."Terus bagaimana saya selanjutnya?" kata orang itu.Konsultan energik itu menjawab, "Ikhlaskan rumah itubuat adik anda.Kehidupan anda tidak akan berkah dengan rumah yangmerupakan buah dari menyakiti ibu anda."Butiran jernih mengalir di pipi orang itu. Dengannada tersengal dia berkata, "Lalu dimana keluargasaya harus berteduh?
Sang konsultan menjawab, "Allah , Tuhan PenguasaAlam Maha Kaya, pasti ada jalan yang akan Dia berikan."Sesampainya di rumah sang kakak memanggil adiknya,"Adikku daripada kita bertengkar di pengadilan danhubungan persaudaraan kita rusak hanya karena rumahini, aku serahkan rumah ini untukmu.Aku ikhlas. Rumah ini sebenarnya milik ibu, bukanmilik saya. Mulai hari ini, rumah ibu ini akuserahkan sepenuhnya untukmu."Sang adik berdiri dan kemudian memeluk sang kakaksambil berkata, "Kakakku, rumah ini adalah rumahmumaka ambilah.Saya tidak akan meneruskan di pengadilan. Tinggalahdengan damai di rumah ini bersama istri dananak-anak kakak.Saya bangga menjadi adikmu. Saya tak inginkehilangan engkau kakakku..."

Keduanya berpelukan dengan linangan air mata dimasing-masing pipinya.Kisah nyata di atas memberi pelajaran kepada kitabahwa ketika kita berpikir apa yang akan sayadapatkan (to GET) maka yang kita peroleh adalahkegelisahan dan permusuhan.Sebaliknya ketika kita berpikir apa yang bisa sayaberikan (to GIVE) maka yang kita peroleh kedamaian,rasa hormat, rasa cinta dan persaudaraan.Tatkala kita berpikir to GET pada hakekatnya kitamasih TERJAJAHTerjajah oleh harta, terjajah oleh jabatan, terjajaholeh kepentingan dan terjajah oleh gengsi.Orang-orang yang merdeka adalah orang yang di dalamdirinya tertanam kuat sikap to GIVEBila ia memiliki harta, ilmu dan karunia lainnya iaselalu berpikir kepada siapa lagi saya harusberbagi... berbagi...dan berbagi.Negeri ini akan terus tumbuh, berkembang, majudengan diselimuti kedamaian, rasa cinta,persaudaraan, dan kemulian bila sebagian besardiantara kita mengembangkan sikap to GIVE ketimbangto GETKita semua harus selalu berpikir, apa yang sudahsaya berikan buat anak, mitra kerja, perusahaan,pasangan hidup, saudara, orang tua, bangsa dan SangMaha Pencipta? Pertanyaan itu harus selalu tertanamkuat dalam setiap aktivitas kita sehari-hari.Jangan kedepankan to GET dalam sikap keseharian kita.Pada saat sebagian besar orang memiliki sikap to GIVEkita sudah boleh mengatakan bahwa kita memang sudah MERDEKA.